Desa Tombasian Bawah: Jejak Sejarah dan Potensi Lokal yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi


Manado,MGs –
Desa Tombasian Bawah di Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menjadi salah satu desa yang masih mempertahankan warisan budaya dan potensi lokal di tengah arus modernisasi. Dengan sejarah panjang dan kekayaan tradisi yang kuat, desa ini terus menunjukkan eksistensinya sebagai simbol kearifan lokal Minahasa.

Dari Waleure ke Tombasian Bawah Sebelum resmi dimekarkan pada tahun 1981, wilayah ini merupakan bagian dari Desa Tombasian Raya. Saat pemekaran, desa ini sempat dikenal dengan nama Waleure, yang berarti “rumah lama”. Namun, setelah adanya kesepakatan bersama warga, nama tersebut diganti menjadi Desa Tombasian Bawah, yang digunakan hingga sekarang sebagai identitas resmi desa.

Rumah Panggung, Warisan Sekaligus Sumber Ekonomi

Salah satu kebanggaan Desa Tombasian Bawah adalah kerajinan rumah panggung tradisional khas Minahasa. Hampir setiap keluarga memiliki keahlian mengolah kayu dan merakit rumah panggung dengan teknik turun-temurun.

Walau masih dikelola secara mandiri tanpa organisasi formal, hasil karya warga sudah dikenal luas bahkan hingga ke luar daerah karena kekuatan struktur dan keindahan desainnya.

Sayangnya, keterbatasan alat dan fasilitas kerja masih menjadi tantangan utama. Banyak pengrajin harus menyewa peralatan, yang akhirnya mengurangi keuntungan. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat memberikan dukungan berupa bantuan alat, pelatihan, serta akses permodalan agar potensi ini bisa berkembang lebih optimal.

Hasil Bumi dan Captikus Jadi Andalan

Selain rumah panggung, hasil pertanian juga menjadi penopang ekonomi masyarakat. Jagung menjadi komoditas utama, dengan sekitar 40% warga bekerja sebagai petani.

Sementara itu, sekitar 25% warga mengandalkan penghasilan dari produksi Captikus, minuman tradisional khas Minahasa yang dihasilkan dari penyulingan air nira. Meski masih dikelola secara tradisional, produksi Captikus menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Tradisi dan Bahasa Daerah yang Tetap Lestari

Kehidupan sosial di Desa Tombasian Bawah masih kental dengan nilai-nilai kebersamaan. Salah satu tradisi yang masih dijaga adalah ziarah kubur selama 40 hari setiap Minggu setelah ada warga yang meninggal dunia. Tradisi ini dilakukan secara sukarela sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan kepada keluarga yang berduka.

Masyarakat juga masih aktif menggunakan bahasa Tontemboan, bahasa daerah Minahasa, dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa ini menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya yang terus dipertahankan di tengah pengaruh budaya luar.

Tantangan dan Upaya Pelestarian

Meski kaya potensi, Desa Tombasian Bawah tidak lepas dari tantangan. Selain keterbatasan alat produksi rumah panggung, muncul pula kekhawatiran terhadap budaya konsumtif dalam tradisi ziarah, yang kadang menimbulkan kesenjangan sosial.

Tokoh adat dan pemuka agama kini terus berupaya mengembalikan makna sejati tradisi tersebut agar tetap sederhana dan sarat nilai kebersamaan.

Peran Tokoh Lokal dan Semangat Generasi Muda

Tokoh-tokoh masyarakat memegang peran penting dalam menjaga identitas budaya. Melalui penggunaan bahasa daerah, kegiatan adat, hingga pembinaan generasi muda, mereka menjadi penjaga nilai-nilai luhur Minahasa.

Nama Nok Nobu, salah satu pejuang Permesta asal desa ini, juga dikenang sebagai inspirasi bagi masyarakat untuk terus mencintai tanah kelahiran dan berkontribusi bagi kemajuan desa.

Menjaga Warisan, Membangun Masa Depan

Dengan kekayaan budaya, potensi ekonomi, serta semangat gotong royong yang masih kuat, Desa Tombasian Bawah menjadi contoh nyata desa yang mampu menjaga warisan leluhur sambil terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Jika dikelola dengan baik, potensi lokal yang dimiliki desa ini diyakini mampu membawa Desa Tombasian Bawah menjadi desa berdaya saing tinggi, berbudaya, dan maju, tanpa kehilangan jati diri Minahasa yang melekat kuat di dalamnya. (Cie)